parenting

Kenapa Sih Anak Berperilaku Kasar? Ini Penyebab dan Mengatasinya

Masa kanak-kanak adalah masa-masa yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan. Anak-anak bisa bermain dengan teman sebayanya.


Editor: Nurakhmayani
Kamis, 8 Desember 2022 | 15:30 WIB
Foto: ilustrasi (pexels/Victoria Akvarel)
Foto: ilustrasi (pexels/Victoria Akvarel)

Masa kanak-kanak adalah masa-masa yang penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan. Anak-anak bisa bermain dengan teman sebayanya. 

Namun, saat sedang bermain tersebut, anak-anak bisa melakukan tindakan tak terduga, seperti berperilaku kasar kepada temannya. 

Mereka mendorong, menarik atau bahkan melukai temannya.Tentu saja perilaku ini bisa membuat Moms n Dads menjadi khawatir.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan anak berperilaku kasar seperti itu? 

Ada beberapa penyebabnya seperti yang diungkap oleh dokter Dyah Novita dari klikdokter.

Pertama, kurangnya interaksi antara anak dan orangtua 

Moms n Dads interaksi antara anak dengan orangtua sangat penting lho. Moms n Dads harus paham apa yang menjadi keinginan anak, ada masalah apa serta apa yang sedang dirasakan oleh anak. 

Jika interaksi orangtua dan anak memburuk maka secara otomatis hubungan serta komunikasi keduanya juga ikut memburuk.

Akibatnya, saat anak menginginkan sesuatu dan tidak bisa dikomunikasikan, anak pun cenderung berperilaku kasar.  

Kedua, orang tua sering menoleransi perilaku anak

Banyak orangtua yang sering menoleransi perilaku anak yang tidak sopan karena menganggap usianya masih terlalu kecil untuk memahami tindakannya yang tidak terpuji. 

Padahal jika hal ini terus dibiarkan akan berbahaya karena si anak bisa berperilaku kasar. 

Karena itu, Moms n Dads sedini mungkin mengajarkan anak mengenai perilaku yang baik atau buruk agar mereka cepat belajar dan mengetahui cara berperilaku yang baik.

Ketiga, orangtua terlalu memanjakan anak 

Moms n Dads, sebaiknya Anda jangan terlalu sering memberikan hak istimewa kepada anak dengan mengabulkan apapun yang ia mau.

Sebab, hal ini bisa membuat anak berperilaku sesuka hati hingga menumbuhkan perilaku kasar ke teman-temannya jika tidak sesuai dengan keinginan si anak.

Keempat, kurang sosialisasi

Seorang anak harus bersosialisasi dengan teman sebaya ataupun orang-orang di sekitarnya.

Hal ini perlu dilakukan agar si anak belajar untuk berbagi, belajar untuk bersikap toleran dan peduli terhadap teman. Jika tidak, maka si anak bisa berperilaku sesuka hati, mau menang sendiri. 

Kelima, mengalami kesulitan mengendalikan emosi dan kontrol diri

Selain itu, perilaku kasar anak juga dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya trauma atau gangguan psikologis yang dialami anak. 

Contohnya anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD.

Biasanya anak dengan kondisi seperti ini cenderung lebih impulsif dibandingkan anak lain seusianya. Akibatnya mereka bisa meluapkan emosi dan bersikap kasar secara mendadak.

Keenam, frustasi

Moms n Dads, siapa bilang frustasi hanya dialami oleh orang dewasa saja? Kenyataannya anak pun bisa mengalami frustasi. 

Biasanya frustasi yang dialami oleh anak karena adanya stresor (pemicu stres) atau tekanan lain juga dapat memicu anak bertindak kasar.

Umumnya frustasi pada anak karena masalah keluarga atau anak mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan belajar di sekolah. 

Akibatnya, anak melampiaskan emosinya dengan berperilaku kasar kepada orang lain.

Ketujuh, anak melihat dari pengalaman

Moms, pengalaman pribadi juga berperan penting pada perilaku kasar anak. 

Jika si anak pernah diperlakukan kasar oleh orang lain, maka ia akan melakukan hal serupa ke depannya. 

Pengalaman dikasari tersebut akan terekam di memori anak, kemudian mereka melakukannya kepada orang lain. 

Ada beberapa hal yang harus Moms n Dads lakukan ketika anak berperilaku kasar.

Pertama, menghentikan perilakunya dan memberi contoh yang baik

Saat Moms n Dads melihat anak Anda berperilaku kasar ketika sedang bermain, maka Anda harus langsung menghentikan dan menghampirinya.

Misalnya saat anak berusaha berebut mainan dengan temannya, coba Moms n Dads arahkan dia untuk memberikan mainan kepada temannya yang masih kecil.

Jangan ragu untuk memberinya apresiasi setelah ia bersedia mengembalikan mainan. 

Namun, Moms n Dads juga harus tegas jika si anak sudah dapat berkomunikasi dengan baik. 

Misalnya dengan mengingatkan: "Stop, kembalikan dulu."

Setelah itu, arahkan anak untuk meminjam dengan sopan, seperti "Bilang apa kalau mau pinjam?" atau sesuaikan dengan bahasa yang dipahami anak. 

Setiap anak berbuat baik, Moms n Dads jangan lupa selalu memberi apresiasi atas tindakannya.

Kedua, bawa anak ke area tenang dan jelaskan baik-baik

Suatu ketika Moms n Dads menghadapi si anak yang sedang bermain lalu menunjukkan reaksi tantrum, maka Moms n Dads dapat mengajak ia untuk menepi ke area yang tenang dan sepi. Coba beri ia waktu untuk menenangkan dirinya sejenak.

Untuk anak kecil, Moms n Dads bisa meredakan emosinya dengan mengajaknya berhitung secara perlahan. 

Selain itu, Moms n Dads dapat memberi anak sentuhan fisik, misalnya sambil dipeluk atau membelai rambutnya. 

Jika sudah lebih tenang, ajak anak berdiskusi dan tanyakan apa yang dirasakan dan diinginkan si anak.

Lalu, Moms n Dads dapat memberitahunya apa yang salah dari perilakunya tadi. 

Hal yang terpenting, Moms n Dads harus bisa menjelaskan apa dan bagaimana sikap yang tepat.

Ketiga, tidak perlu memarahi anak

Jika anak bersikap kasar, Moms n Dads tak perlu memarahi anak atau memberinya hukuman fisik sebab hukuman fisik hanya menjadi contoh perilaku kekerasan bagi anak.

Moms n Dads cukup bersikap tegas dan konsisten kepada anak, arahkan atau beri contoh perilaku tepat kepada anak. Jangan lupa, apresiasi setiap perilaku positif anak.

Moms n Dads dapat membantu anak untuk bisa melatih mengendalikan emosi dengan baik, mengembangkan empati, dan keterampilan sosialnya. 

Caranya? Coba deh libatkan dia dalam berbagai kegiatan bersama anak lain seusianya. 

Selain itu, Moms n Dads juga bisa mengajak si kecil menonton video atau film mengenai contoh perilaku yang tepat, lalu  ajak anak untuk diskusi tentang film tersebut.

Keempat, jangan mengalah dengan anak yang berperilaku kasar 

Ingat ya Moms n Dads ketika anak berperilaku kasar, jangan beri toleransi dan mengalah terhadap perilakunya. 

Jika Moms n Dads sekali menoleransi anak yang marah karena keinginannya tidak terpenuhi, maka dia akan menggunakan cara serupa hingga keinginannya tercapai. 

Kelima, hindari tontonan yang kasar dan agresif

Moms n Dads harus hati-hati terhadap tontonan anak. Sebab, perilaku kasar dan pemarah bisa terbentuk karena anak meniru apa yang mereka lihat dari tontonan di televisi maupun gawai. 

Karena itu, hindari tontonan tersebut sedari dini untuk membantu anak mengurangi perilaku kasarnya. 

Nah, Moms n Dads bisa lebih bijak lagi menghadapi anak yang bersikap kasar agar mampu mengelola emosinya dengan baik. 

Tag perilaku

Terkini