konsultasi

Ferry Irawan Aniaya Venna Melinda, Apakah Pelaku KDRT Bisa Berubah?

Kasus Ferry Irawan dan Venna Melinda menambah daftar panjang dugaan KDRT di kalangan artis.


Editor: Ery Syahria
Rabu, 11 Januari 2023 | 03:03 WIB
Ilustrasi kekerasan [Pexels.com/MART PRODUCTION]
Ilustrasi kekerasan [Pexels.com/MART PRODUCTION]

Kabar mengejutkan datang dari pasangan artis Ferry Irawan dan Venna Melinda. Ferry dilaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh sang istri.

Berdasarkan laporannya, Venna mengaku dianiaya di sebuah hotel di Kediri, Jawa Timur pada Minggu (8/1/2023). Sebelum terjadi kekerasan fisik, mereka lebih dulu cekcok.

Venna Melinda berlumuran darah di bagian hidung. Polisi mengungkap luka itu akibat ada tekanan dari dahi atau jidat Ferry Irawan.

Kasus tersebut menambah daftar panjang dugaan KDRT di kalangan artis. Sebelum ini sudah ada Rizky Billar yang dilaporkan istrinya, Lesti Kejora atas dugaan serupa.

Hanya saja, Lesti Kejora memilih mencabut laporan tersebut dan kembali ke pelukan Billar.

Timbul pertanyaan, apaka pelaku KDRT bisa berubah?

Dilansir dari laman Klikdokter, Ellen Pence, dari Domestic Abuse Intervention Project (DAIP), sebuah program untuk mengurangi KDRT, mengatakan bahwa kekerasan yang didominasi lelaki muncul akibat praktik menahun budaya patriarki.

Bagi yang belum tahu, patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan dan pemimpin utama dalam banyak hal.

Menurut Ellen, pria pelaku KDRT sulit berubah jika dilihat dari konstruksi sosial dan politik dari sistem patriarki yang mendarah daging. Dia juga dengan gamblang menyebut prilaku kekerasan dari lelaki tidak bisa dihilangkan dengan metode psikoterapi maupun konseling.  

"Sesi terapi dengan profesional rentan membuat lelaki pelaku KDRT melihat tindakan mereka hanya sebagai produk dari trauma masa lalu maupun masalah lain yang mereka alami," ujarnya.

Analisa Ellen juga senada dengan psikolog Ikhsan Bella Persada. Dia mengatakan pelaku kekerasan sangat sulit atau bahkan tak mungkin menghilangkan kebiasaan KDRT.

"Mereka punya agresivitas yang cukup kuat, sehingga ketika stres atau ada sesuatu yang tidak sesuai, maka agresivitasnya akan muncul dalam bentuk KDRT," katanya.

Selain itu kata Ikhsan, pelaku kekerasan sulit dalam mengontrol emosi. Hal tersebut praktis mendorong 
impulsivitas untuk melakukan KDRT terhadap pasangan.

Kabar baiknya, intensitas dan frekuensi kekerasan yang mereka lakukan dapat diturunkan dengan memberikan pelaku terapi. Pasalnya, terapi bisa membantu seseorang dalam mengelola emosi. 

Tag venna melinda ferry irawan kdrt

Terkini