parenting

Ingat ya Bunda, Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat

"Kita harus menyebarkan pemahaman bahwa anak yang sehat adalah anak yang aktif, kritis, dan mampu menganalisis, mereka adalah anak-anak yang cerdas," katanya.


Editor: Cahyaningrum
Kamis, 7 September 2023 | 14:30 WIB
Ilustrasi anak aktif bermain [Pexels.com]
Ilustrasi anak aktif bermain [Pexels.com]

Di Indonesia anak gemuk sering diartikan sehat. Karenanya, banyak orangtua di Indonesia yang menginginkan anaknya gemuk, terlebih enak dipandang karena menggemaskan.

Padahal, anggapan anak gemuk berarti sehat adalah salah. Setidaknya hal ini disampaikan oleh Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta dr. Novitria Dwinanda, Sp.A.

Novitra tak menampik masih banyak orangtua yang membiarkan anak-anak mereka gemuk asalkan tampak sehat. Ada juga yang tak masalah anak mereka bertubuh pendek.

"Sekarang tren ada dua, gemuk itu lucu dan kedua tren nggak apa-apa kalau badannya pendek yang penting aktif," kata Novitria.

Novitra menekankan pentingnya mengidentifikasi kesehatan anak-anak melalui pengukuran kurva pertumbuhan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Selain itu, berat badan anak juga harus berada dalam rentang ideal, tidak boleh terlalu gemuk atau terlalu kurus, sehingga mereka dapat tumbuh secara sehat.

"Oleh karena itu, kita harus menyebarkan pemahaman bahwa anak yang sehat adalah anak yang aktif, kritis, dan mampu menganalisis, mereka adalah anak-anak yang cerdas," ungkapnya.

Selain aspek kognitif, secara fisik anak sehat juga akan menunjukkan tanda-tanda tubuh yang seimbang. Menurut Novitria, sebagian besar dokter anak akan memeriksa apakah pertumbuhan fisik anak sesuai dengan kurva pertumbuhan yang ada.

"Meskipun kadang-kadang nenek atau anggota keluarga lainnya mungkin khawatir melihat anak terlalu kurus, tetapi mata seorang dokter melihat hal itu dengan perspektif yang berbeda. Oleh karena itu, penggunaan alat pengukur dan grafik pertumbuhan sangat penting, karena itulah yang akan membantu kami mengevaluasi perkembangan IQ anak," jelasnya.

Nutrisi yang dikonsumsi oleh anak, terutama selama dua tahun pertama kehidupannya, memiliki dampak signifikan pada pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya. Oleh karena itu, dokter Novitria menekankan pentingnya peran orang tua dalam memastikan anak-anak menerima nutrisi yang cukup dan seimbang, sehingga terhindar dari masalah kekurangan nutrisi atau obesitas.

"Anak memerlukan karbohidrat, protein hewani, dan lemak dalam makanannya. Mengapa bukan protein nabati? Karena protein nabati mengandung asam amino non-esensial yang dapat diproduksi oleh tubuh sendiri. Sedangkan asam amino esensial harus diperoleh dari makanan, dan inilah yang penting untuk pertumbuhan otak," jelasnya.

Tag tanda anak sehat anak gemuk anak obesitas

Terkini