konsultasi

Bisakah Penyakit Autoimun Lupus Dialami Anak-anak, Dok?

Selama ini banyak yang beranggapan lupus hanya dialami orang dewasa, faktanya? Simak penjelasan pakar kesehatan anak.


Editor: Cahyaningrum
Kamis, 11 Mei 2023 | 19:00 WIB
Ilustrasi anak perempuan atau remaja putri juga bisa mengidap autoimun seperti lupus. (Foto: Pexels/Ron Lach)
Ilustrasi anak perempuan atau remaja putri juga bisa mengidap autoimun seperti lupus. (Foto: Pexels/Ron Lach)

Selama ini banyak yang beranggapan lupus hanya dialami orang dewasa, faktanya? Simak penjelasan pakar kesehatan anak.

Tanya:
Systemic lupus Erythematosus (SLE) atau penyakit lupus adalah salah satu jenis penyakit autoimun kronis yang menimbulkan gejala berupa rasa lelah yang ekstrem, peradangan pada beberapa bagian tubuh, seperti sendi, kulit, ginjal, pembengkakan di kaki dan sekitar mata hingga otak.

Menurut penelitian, perempuan lebih rentan mengalami lupus ketimbang laki-laki, karena lebih banyak menghasilkan dan menggunakan hormon estrogen atau disebut juga hormon “immuno-enhancing.”

Hormon tersebut membuat perempuan mempunyai sistem kekebalan lebih kuat, tetapi di lain sisi justru bisa menjadi bumerang ketika antibodi berubah menjadi autoantibodi dan menyerang sel tubuh, sehingga penyakit autoimun lebih rentan terjadi.

Berbicara SLE, selama ini banyak orang beranggapan jenis autoimun ini dialami orang dewasa. Yang menjadi pertanyaan, benarkah anggapan tersebut?
 

Jawab:
Dokter spesialis anak Rumah Sakit UI, dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A menjelaskan bahwa penyakit lupus bisa dialami semua usia, termasuk anak-anak.

“Memang jarang sekali terjadi di bawah lima tahun. Biasanya prevalensi akan semakin meningkat ketika anak melebihi usia 10 tahun atau melewati masa dekade pertamanya. Sehingga pada anak, usia yang sering mengalami itu remaja,” kata Annisa saat webinar kesehatan di Jakarta, Kamis (11/5/2023).

Sama seperti pada dewasa, lanjut dia, yang sering terkena memang perempuan ketimbang laki-laki. Walaupun pada anak-anak dikaitkan dengan estrogen pada perempuan, tapi pada pre-pubertas pun di mana kadar estrogennya belum terlalu tinggi, anak perempuan juga lebih banyak mengalami.

Lantas, bagaimana dengan gejala lupus pada anak-anak, apakah sama dengan dewasa?

Gejala lupus pada anak-anak, kata Annisa, tidak berbeda seperti yang dialami orang dewasa.

Gejalanya bisa mengalami fatigue atau mudah lemas, demam, perubahan berat badan, nyeri otot atau nyeri tekan, dan pembesaran kelenjar.

“Gejala spesifik organnya itu pada anak-anak biasanya gejala awalnya kok tiba-tiba bengkak di area ujung-ujung jari, pergelangan atau lutut. Kemudian kulit juga bisa timbul kemerahan di area pipi, sangat sensitif dengan sinar matahari, dan sariawan berulang juga termasuk yang sering pada anak,” terangnya merinci.

Selain itu, anak yang mengidap lupus juga bisa mengalami masalah pada ginjal dari 27 hingga 59 persen.

Gejala yang dialami misalnya urin berwarna coklat seperti teh dan urin semakin sedikit.

“Kalau diperiksakan di laboratorium biasanya juga kita lihat adanya kebocoran protein dalam urin. Ini merupakan indikasi dilakukannya biopsi atau pemeriksaan lanjutan untuk melihat gambaran ginjal anak,” kata Annisa.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa gejala neurologis juga cukup sering ditemui pada anak-anak dengan lupus.

Mereka akan mengalami kesulitan dalam konsentrasi dan berpikir, kebingungan atau kehilangan memori, depsis atau kecemasan, nyeri kepala, kejang, kebas, hingga kepanasan atau kesemutan pada tangan dan kaki.

“Mata juga termasuk gejala yang sering pada anak. Biasanya ditemukan mata kering yang mudah diidentifikasi. Kemudian kita juga sering temui gejala hematologi. Jadi anaknya ini tampak pucat, gampang memar, terus bintik-bintik merah,” jelas Annisa.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, ia menganjurkan Parents segera memeriksakan anaknya ke dokter spesialis alergi dan imunologi atau dokter umum bila spesialis tidak ada.

“Dari dokternya itu biasanya minimal 4 dari 11 kriteria positif menunjukkan 96 persen sensitivitas dan 96 persen spesifisitas untuk mendiagnosis SLE. Meskipun diagnosis ini sangat sulit, butuh waktu. Tapi dengan gejala yang semakin sering atau semakin nyata terlihat itu bisa diidentifikasi cepat untuk mendapatkan pengobatan,” terang Annisa panjang lebar.

Menghadapi autoimun SLE, baik Parents maupun anak yang mengidap penyakit tersebut harus sabar, mengingat pengobatannya  jangka panjang.

Tag autoimun lupus anak

Terkini